Pangeran Kodok dan Putri Cantik

Wednesday, October 15, 2008 Leave a Comment

Alkisah pada suatu ketika hiduplah seorang raja yang adil dan bijaksana. Bersama permaisuri dan pangeran putera mahkota yang masih dalam buaian mereka hidup di istana yang megah, dengan kolam teratai yang dipenuhi ikan berwarna rupa, halaman yang dihiasi rumput halus hijau dan warna-warni bebungaan. Sang raja dan permaisuri hidup bahagia dan dicintai rakyatnya. Keadilan dan kebijaksanaan sang raja terkenal di seantero dunia. Dihormati kawan dan disegani lawan. Sayangnya tidak semua orang rupanya menyukai raja yang baik ini. Adalah seorang penyihir jahat yang sejak lama sangat mendendam dengan kesuksesan sang raja. Dia sangat membenci semua hal yang berkaitan dengan sang raja. Si penyihir iri dengan semua hal yang dimiliki oleh sang raja. Si penyhir iri dengan permisuri raja yang cantik jelita. Si penyihir dengki dengan istana yang megah dan indah. Si penyhir iri dengan singgasana yang berwibawa. Si penyir iri dengan kehormatan yang dimiliki oleh sang raja dan begitu dicintai oleh rakyatnya. Dulu, si penyihir adalah kepala tabib istana. Tapi karena kesalahan besar, sang penyihir berusaha meracun raja untuk mendapatkan permaisuri yang rupawan. Tapi gagal, dan si penyihir diusir ke hutan yang gelap dan terpencil di pinggir rawa-rawa yang dipenuhi nyamuk dan buaya.
Suatu ketika, ketika rasa irinya sudah begitu memuncak, si penyihir terbang dengan sapu bututnya ke istana sang raja. Karena kebaikan sang raja, si penyihir diterima dengan baik dan sopan. “Apakah gerangan yang membuat Tuan datang kemari? Saya merasa terhormat dengan kunjungan tuan.” Sambut sang raja kepada si penyhir. “Puah! Tak usah kau beramah tamah bermanis kata! Dusta!” balas si penyihir. Sang raja kaget mendapat respon yang tidak diduga-duganya itu. Tapi sang raja masih bersabar. Dan dengan bijak kembali dia menanyakan kedatangan si penyihir mantan kepala tabib istananya itu. “Ada berita apa gerangan yang tuan bawa kepada saya...?”

“Ya, aku membawa satu berita untukmu, raja sombong! Aku membawa kutuk untuk keluargamu. Aku mengutuk anakmu yang kamu banggakan itu menjadi kodok! Dia akan selamanya menjadi kodok, sampai ada putri cantik yang mencintainya setulus hati dan mencium bibirnya tanpa merasa jijik! Puah…!” si penyihir merapalkan mantera kutuk untuk putera sanga raja. Mendengar kutuk itu, sang raja marah, “Durjana! Tak tahu terimakasih! Sudah diberi kesempatan memperbaiki diri, pulang-pulang membawa petaka! Pengawal tangkap orang ini! Gantung dia di alun-alun!”
Si penyihir hendak lari dan berusaha menghindari tangkapan para pengawal tapi gagal. Sambil berteriak terseret-seret dia kembali mengeluarkan kutuknya; “Pangeran putera mahkota akan menjadi kodok! Hahahaha! Aku boleh mati kau gantung raja sombong, tapi kau tak akan punya pengganti! Puteramu akan jadi pangeran kodok! Pangeran kodok! Kodok…! dok…! hahahahahaha….!” Benarlah apa yang dikatakan oleh si penyihir. Permaisuri berlari terisak memanggil sang raja. “Kanda… kanda… putera kita… hiks… putera kita kanda…” permaisuri terduduk memeluk kaki sang raja. Mereka pun berjalan cepat masuk ke dalam kamar sang pangeran yang baru berumur beberapa bulan itu.

Sang raja terperangah ketika melihat puteranya yang tidur di buaian itu. Dia telah berubah menjadi manusia kodok! Persis seperti yang diucapkan oleh si penuihir. Kulitnya berwarna hijau dengan belang coklat dan hitam. Bibrnya lebar dan bergelambir dower. Kepalanya plontos dan bentuknya tidak bulat. Matanya besar mencorong ke luar. Dan jari-jari tangan dan kakinya berselput seperti bebek! Raja terduduk lemas. Dia memerintahkan pengawalnya untuk menghentikan hukum gantung terhadap si penyhir. Tapi terlambat, baru saja si penyhir mati. Tali gantungan mengakhiri kezalimannya. Dan dimulailah kemuraman kerajaan yang bahagia itu. Tak ada lagi senyum ceria para warga. Mereka seolah-olah ikut merasakan kesedihan keluarga raja mereka. Waktu berlalu sang putera bertambah usia. Dan perkemabangan putera mahkota yang diharapkan meneruskan pemerintahan negeri itu semakin menyedihkan. Sang pangeran tak bisa bicara, hanya suara-suara aneh seperti katak setiap kali dia hendak bicara, “Groook…grook… grook…!”
Suatu ketika, sang pangeran duduk di pinggir kolam teratai yang indah itu. Ikan berwarna-warni dan bunga-bunga teratai yang mekar merekah merah itu tak mampu menghibur hatinya yang diliputi perasaan menyesal. Sang pangeran menyesali keadaan dirinya yang begitu malang. Dia menyesali rupa dirinya yang buruk. Tak ada seorang pun yang berani mendekatinya. Bahkan untuk ngobrol dnegan orangtuanyapun dia tidak bisa. Dia iri melihat muda-mudi rakyat kerajaannya bermesra-mesraan dengan, berpandang-pandangan saling cinta. Ayahnya, sang raja, sampai saat ini masih menyelenggarakan sayembara untuk menghapus kutukan sang penyhir.
"BARANGSIAPA BERHASIL MENYEMBUHKAN PUTERA MAHKOTA DARI KUTUK PENYIHIR YANG JAHAT AKAN DIJADIKAN ISTRI PANGERAN".
Beratus-ratus puteri cantik dari berbagai kelas, tempat dan kerajaan berdatangan ke istana mencoba peruntungan mereka.
Tapi ketika mereka masuk ke dalam kamar dan melihat keadaan sang pangeran yang sebenarnya, mereka para puteri itu berteriak kaget. Mereka jijik dengan rupa pangeran yang aneh itu. Apalagi mereka harus menciumnya? Hiiiy! Swamapi suatu ketika, ketika sang pangeran sedang menangisi dirinya di tepi kolam, sebentuk jari halus menghapus air matanya. Pangeran terkejut, terpana. Seorang puteri duduk disampingya. Puteri cantik bergaun putih, kulit tangan yang mulus. Mata yang indah. Senyum yang sumringah. Cantik mempesona.
Sang pangeran mundur menjauhi si putri, dia malu dengan keadaan dirinya. Dia berlari masuk ke kamarnya. Dia menangis berteriak keras, “Grooook….! groook..? groook…!” Sang putri jelita itu pelan berjalan ke dalam istana. Disambut lesu oleh sang raja. Dia mengutarakan niatnya kepada sang raja dan permaisuri. “Tuan Raja yang bijak, tuan permaisuri, hamba adalah puteri dari kerajaan tetangga sebelah selatan. Hamba turut berduka dengan keadaan yang menimpa keluarga kerajaan Tuan raja dan permaisuri. Oleh karena itu, kedatangan hamba kemari dengan niat membantu. Barangkali jika hamba diijinkan, saya akan mencoba membantu putera mahkota.” Permaisuri yang begitu mencintai puteramya itu tak pernah kehilangan semangat. “Baiklah, puteri yang baik. Kami sangat menghargai usahamu. Mari saya antar ke kamar putera kami.” Lalu Diantarlah si puteri dengan penuh harap akan kesembuhan puteranya.

Sampai di depan pintu kamar pangeran, permaisuri mengetuk pintu. “Nak… puteraku sayang, bukalah pintu kamarmu. Ada seorang puteri cantik yang ingin menolongmu, Nak. Bukalah pintunya.” Tak ada jawaban dari dalam. Tapi tak lama kemudian pintu dibuka, sedikit. Terlihat mata yang mencorong itu mengintip dari sela-sela pintu. Mencari-cari puteri yang dimaksud ibunda permaisurinya. Ternyata putri yang tadi menghapus air matanya di taman!
Dibukalah pintu oleh sang pangeran. Dan ditariknya tangan si puteri kasar. Permasuri terkejut dan mencoba ikut masuk. Tapi si putri memberi tanda agar membiarkan mereka berdua saja di dalam kamar. Pintu kamar tertutup kembali. Rapat.

Di dalam kamar yang luas dan mewah itu, si pangeran kodok duduk di lantai menjatuhkan kepalanya di lutut puteri yang duduk anggun di atas kursi. Pangeran kodok menangis tersedu, “Groook…groook…grokkk…” dia hendak mengatakan "Tolong aku, puteri, tolong aku. Cabutlah kutukan ini. Aku tak tahan lagi. Aku ingin mati saja jika kutukan ini tak hilang dariku.” Si putri membelai lembut kepala polos berwarna hijau itu. Dia mengerti apa yang dikatakan oleh si kodok. Dipandanginya mata belok yang mencorong itu, dalam. Mereka seperti bicara dari hati ke hati. “Aku akan menolongmu. Aku mencintaimu.”
Lalu, si putri mencium sang pangeran. Dan tiba-tiba, Buzzzh! Asap tebal menyelimuti tubuh sang pangeran, memenuhi ruang kamar. Dan ketika asap itu sudah mulai berkurang, samar terlihat pangeran yang berwarna hijau tadi telah hilang. Tubuhnya berganti rupa menjadi tubuh manusia yang sempurna, sehat, kekar, dan tentu saja wajahnya yang tampan. Si puteri terpana dengan pemandangan di hadapannya. Pintu kamar terbuka. Dan pangeran tampan itu keluar memeluk ibunda permasuri.

Kerajaan kembali berbahagia. Pangeran tampan dan puteri jelita akhirnya menikah. Pesta meriah pun diadakan untuk merayakan kesembuhan sang pangeran dan pernikahan mereka. Mereka hidup bahagia, selamanya.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Masih ingatkan dongeng diatas !!.., dulu waktu kecil Kita sering denger dongeng tersebut, tapi kalau sekarang suka ketawa sendiri. Apa ada cewek seagresif putri tadi yang rela/mau mencium orang sebesar kodok (eh salah ding kodok sebesar orang ha...ha..) yang buruk rupa....jangankan nyium ngebayangin juga gak akan berani ha.ha...namanya juga dongeng ceritanya fiktif karena memang diangkat dari pemikiran dan kisah nyata sehingga menjadi alur perjalanan hidup dengan pesan moral, tapi sebenarnya apa Esensi (inti sari) atau pesan moral yang terdapat didalam cerita tadi!!...(hi..hi..berat nih).
Dongeng tadi menjelaskan kepada kita bahwa sejatinya kita harus tetap bersyukur dengan keadaan kita, jangan mengurung diri hanya karena membenci badan kita yang kurus, kecil, hitam pula lagi, membenci karena hidungmu mancung kedalam, menangisi karena tangan kita yang pendek sebelah, mengutuki bibir yang melar seperti karet gelang yang kena minyak tanah, atau pun segala macam kekurangan yang ada pada diri kita, walau bagaimanapun kita sebagai manusia dianugerahkan banyak kelebihan dan kemampuan, "Bukankah makhluk Allah yang paling sempurna penciptaannya adalah manusia.", semua yang ada didunia ini semuanya pasti ada padanannya, seperti pria dengan wanita, bumi dengan langit atau jangan jauh-jauh diri kita sendiri saja: dua buah mata, sepasang telinga, dua kaki & tangan. So Bro n Sis begitu pun dengan kita Allah menciptakan kekurangan pasti menciptakan kelebihan pada kita. Contohnya saja Thomas Alfa Edison yang notabene berasal dari orang tidak mampu, bahkan ketika disekolahnya dia di DO karena dianggap bodoh tapi apa yang terjadi beberapa tahun kedepan dia sudah menjadi seorang ilmuan, penemu yang sampai saat ini hasil ciptaannya masih kita nikmati (Lampu Pijar), atau kemarin dalam salah satu acara audisi disalah satu stasiun televisi yang pesertanya seorang perempuan tuna netra tetapi mempunyai suara yang luar biasa merdunya, atau kisah Nabi Kita sendiri Nabi Muhammad SAW yang dilahirkan seorang diri tanpa Ibu dan Ayah, hidup dengan seorang paman yang pada akhirnya pun meninggal sehingga dia hidup betul-betul sebatang kara, tapi apa yang terjadi dia membawa perubahan yang sangat besar didunia ini sehingga dianugerahi sebagai manusia yang paling mulia didunia ini, sebagai seorang suri tauladan.
Jadi jangan menarik diri kita dari dunia sosial, jangan berlarut-larut dalam meratapi kekurangan kita, menjadikan kita Parno (paranoid) dengan orang lain, Oh Bro n Sis masih banyak yang bisa kita lakukan diluar sana, Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym didalam bukunya “Inspiring Stories” mengatakan, “Hindari kesalahan besar, yaitu kesalahan tidak berbuat apa-apa.”, terus gali kelebihan potensi diri kita sehingga menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan kelak, intinya adalah
cintai dan hargai diri kita sendiri niscaya orang lain pun akan menghargai kita,
bagaimana orang lain bisa mendekati kita klo diri kita aja jarang mandi, bagaimana orang lain mau berteman dengan kita kalau kita sendiri selalu menyendiri/menjauhi mereka, bagaimana bisa dapat cewek klo kita sendiri malas keluar untuk mencarinya, diluar sana banyak bro cewek atau cowok yang mau dengan kita.

Semoga kita selalu menjadi orang selalu bersyukur dengan apa yang ada dalam diri kita saat ini (mudah-mudahan menjadi motivasi bagi anakmuda sendiri..amin).

4 comments »

  • Anonymous said:  

    luar biasa coy

  • Anonymous said:  

    @Yaqon : Thanks atas komennya...sering-sering berkunjung kesini ya...

  • Anonymous said:  

    Si putri membelai lembut kepala polos berwarna hijau itu. Dia mengerti apa yang dikatakan oleh si kodok. Dipandanginya mata belok yang mencorong itu, dalam. Mereka seperti bicara dari hati ke hati. “Aku akan menolongmu. Aku mencintaimu.”
    Lalu, si putri mencium sang pangeran. Dan tiba-tiba, Buzzzh! <------bagian adegan yang paling saya suka. ada membelainya sam nyiumnya...hehehe

  • Anonymous said:  

    @Mas Gus : yup sama mas itu bagian yang paling bagus, romantis, halah...ha..ha...

  • Leave your response!

    You can write the comment about the posting...... :D