Showing posts with label Books. Show all posts
Showing posts with label Books. Show all posts

Ayat-ayat Cinta -- Novel Pembangun Jiwa

Monday, February 18, 2008 0 comments

Sebuah novel yang sangat menarik....ditulis oleh seorang novelis muda Indonesia kelahiran 30 September 1976 yang bernama Habiburrahman El-Shirazy, Seorang sarjana lulusan Mesir, beberapa waktu lalu setelah Saya mendengar dari teman tentang novel ini Saya penasaran langsung mencari-carinya dan kebetulan sekali di rak buku Manager Saya ada bukunya spontan langsung meminjamnya (he....he... lumayan), bagi Saya sendiri atau mungkin kebanyakan orang sepintas novel ini seperti novel islami yang banyak beredar di toko buku, namun seperti kebiasaan Saya sebelum membaca lebih jauh Saya selalu melihat cover depan maupun belakang, sinopsis dsb, dan ternyata sungguh luar biasa disitu terlihat banyak sekali komentar maupun pendapat dari para penulis, pecinta buku, seorang tokoh dan sebagainya.. sehingga membuat Saya semakin penasaran untuk membacanya, setelah Saya baca dan telaah novel ini merupakan gabungan dari novel budaya, Islami dan Cinta (according to me), dan tentunya novel ini sangat bagus untuk dibaca oleh pemuda (he..he.. anakmuda) dan semua kalangan..karena didalamnya banyak sekali pelajaran maupun kisah yang sangat bermanfaat bagi kita semua. :D

Let's Explore this book :D

Novel ini menceritakan sebuah kisah cinta yang tidak biasa (wih berat nih), kalau boleh saya katakan kisah cinta yang rumit(red), dimana seorang "Fahri bin Abdillah" (pelajar Indonesia yang berusaha mati-matian untuk menuntut ilmu di universitas Al-Ahzar Kairo Mesir) harus menghadapi kemelut dan terjalnya kisah cinta yang terbalut dalam persoalan hidup yang tidak pernah diduga oleh dirinya sebelumnya. (mmmmmm......)

Pada awal kisah dia bertemu dengan seorang gadis beragama Kristen Koptik yang taat "Maria Girgis" namanya, tetangga satu flat dengan Fahri dan ke empat orang temannya(Saiful, Rudi, Hamdi dan Misbah) dan juga ayahnya adalah pemilik flat tersebut(Tuan Boutros, Madame Nahed, serta dua orang anak mereka - Maria dan Yousef), walaupun mereka sering bertemu atau berpapasan tetapi Fahri selalu menampakkan raut wajah yang sewajarnya dan seketika langsung menunduk begitupun dengan Maria sebagai gadis yang beragama Kristen Koptik dia tetap menghargai apa yg dilakukan oleh Fahri yang beragama muslim justru yang ada dalam hatinya adalah kekaguman kepada sikap, perilaku, dan tutur katanya sehari-hari, sampai suatu ketika dia bertemu dengan Fahri di metro mereka saling berbincang-bincang dan mengatakan dirinya mengagumi Al-Qur'an karena namanya terdapat dalam Surah Maryam dan dia meminta Fahri untuk mendengarkan bacaan surah yang dihafalnya, sungguh terkejut Fahri bahwa seorang Kristen Koptik hafal Surah Maryam dan Al-Maidah dengan baik, walaupun demikian lama kelamaan kekagumannya pada Fahri berubah menjadi rasa Sayang dan Cinta yang amat besar tapi sayang Cintanya kepada Fahri hanya tertuang dalam Diarynya, sampai-sampai dia harus menangis, merana, tersiksa dirundung nestapa yang amat sakit karena cinta (mirip lagu Kasih Tak Sampai -- padi) tragis banget ya.... :D dan pada akhirnya :
“Aku masih mencium bau surga. Wanginya merasuk ke dalam sukma.
Aku ingin masuk ke dalamnya. Di sana aku berjanji akan mempersiapkan
segalanya dan menunggumu untuk bercinta. Memadu kasih dalam cahaya

kesucian dan kerelaan Tuhan selama-lamanya.” (Sedih banget...memilukan)
Kemudian ada "Noura" seorang gadis yang juga tetangganya yang harus hidup dalam kesengsaraan dan penyiksaan oleh Ayah tirinya Bahadur (Si Muka Dingin), Fahri sangat menaruh perhatiannya pada Noura karena kehidupan yang dijalaninya begitu berat untuk seorang wanita seperti dirinya, sampai suatu malam ketika semua orang sedang lelap-lelapnya tidur Noura dihajar, dipukul habis-habisan oleh Ayahnya semua orang dikompleknya terbangun dan melihat Noura sedang dipukuli oleh Ayahnya tapi semua diam dan tak menghiraukannya sudah sering mereka melihatnya dipukuli tetapi apa daya mereka tidak mau berurusan dengan Bahadur si "Muka Dingin", tetapi Fahri yang mempunyai hati yang mulia akhirnya dia memberanikan diri untuk menolongnya dan mengajak Maria untuk membantunya, awalnya maria ragu karena dia tidak ingin keluarganya terlibat masalah dengan keluarga Boutrus tetapi setelah dibujuk oleh Fahri akhirnya Maria keluar untuk menolongnya dan mengajaknya untuk sementara tidur dan istirahat dikamarnya, setelah peristiwa tersebut Noura gadis yang lugu diam-diam menaruh hati pada Fahri sampai pada akhirnya Fahri terlibat masalah dengan keluarga Boutrus yang dituduh telah menghamili Noura... (Masalah yang sangat rumit uh....berat...berat) :D
Anggaplah saat ini aku sedang mencium kedua telapak kakimu dengan air mata haruku. Kalau kau berkenan dan Tuhan mengizinkan aku ingin jadi abdi dan budakmu dengan penuh rasa cinta. Menjadi abdi dan budak bagi orang shaleh yang takut kepada Allah tiada jauh berbeda rasanya dengan menjadi puteri di istana raja. Orang shaleh selalu memanusiakan manusia dan tidak akan menzhaliminya. Saat ini aku masih dirundung kecemasan dan ketakutan jika ayahku mencariku dan akhirnya menemukanku. Aku takut dijadikan santapan serigala." (Penggalan Surat Noura)
"Nurul Azkiya" seorang gadis yang juga menuntut ilmu di negeri para Nabi dia anak seorang Kyai terkenal di Jawa, tapi apa daya Fahri yang seorang petani merasa minder dengan Nurul, sampai suatu ketika Nurul pun diam-diam menyukai Fahri, tapi sayang cintanya harus kandas karena ketidak beraniannya untuk menyatakan Cintanya kepada Fahri yang pada akhirnya dia harus terjebak dalam siksaan cinta yang membuat dirinya merasa bodoh atas ketidakberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya. (It's so complicated...... :( )
"Assalamu’alaikum wr. wb. Kutulis surat ini dengan lelehan air mataku yang tiada berhenti dari detik ke detik. Kutulis surat ini kala hati tiada lagi menahan nestapa yang mendera-dera perihnya luar biasa. Kak Fahri, aku ini perempuan paling bodoh dan paling malang di dunia. Bahwa mengandalkan orang lain sungguh tindakan paling bodoh. Dan aku harus menelan kepahitan dan kegetiran tiada tara atas kebodohanku itu. Kini aku didera penyesalan tiada habisnya. Semestinya aku katakan sendiri perasaanku padamu. Dan apakah yang kini bisa kulakukan kecuali menangisi kebodohanku sendiri. Aku berusaha membuang rasa cintaku padamu jauh-jauh. Tapi sudah terlambat. Semestinya sejak semula aku bersikap tegas, mencintaimu dan berterus terang lalu menikah atau tidak sama sekali. Aku mencintaimu diam-diam selama berbulan-bulan, memeramnya dalam diri hingga cinta itu mendarahdaging tanpa aku berani berterus terang. Dan ketika kau tahu apa yang kurasa semuanya telah terlambat." (Sepenggal surat Nurul)
Yang terakhir adalah "Aisha" (Si mata Indah) gadis bercadar yang luar biasa taat kepada ajaran Islam seperti Fahri, pertemuan yang sungguh diluar dugaan bagi dirinya ketika dia harus dibentak, dicaci, dituding oleh orang Mesir di dalam sebuah metro karena telah memberikan tempat duduk untuk para bule(seorang nenek, perempuan muda, dan seorang laki-laki) yang sedang kelelahan, ketika itu terjadi perdebatan yang sengit antara orang mesir dengan Fahri dia tidak tinggal diam karena melihat gadis bercadar itu dihujat dan dicaci oleh orang mesir yang ada dimetro, kemudian setelah Fahri mendamaikan mereka akhirnya Aisha kembali berbincang-bincang dengan bule tadi, Sesaat Aisha mau turun keluar dari metro Aisha sempat mengucapkan "Indonesian, thank you" kemudian Fahri menjawab "Bitte!", sungguh terkejut Aisha ketika mendengar Fahri menjawab dengan Bahasa Jerman dia menatap Fahri penuh tanda tanya, kemudian terjadilah perbincangan antara Fahri dan Aisha dengan Bahasa Jerman akhirnya Aisha mendapatkan Nama dan nomor handphone Fahri, dari situlah awal pertemuan mereka dan akan menjadi kisah yang sangat Luar Biasa. (Love Story.....NGILU... :D)
"Bidadariku,
Namamu tak terukir
Dalam catatan harianku
Asal usulmu tak hadir
Dalam diskusi kehidupanku
Wajah wujudmu tak terlukis
Dalam sketsa mimpi-mimpiku
Indah suaramu tak terekam
Dalam pita batinku
Namun kau hidup mengaliri
Pori-pori cinta dan semangatku
Sebab
Kau adalah hadiah agung
Dari Tuhan
Untukku
Bidadariku"

Penasaran!!!!!...., Bagaimana kisah selengkapnya???? :D cepat beli bukunya......(bukan promosi loh...)
Rate: HIGH RECOMMENDED :D

Update
Filmnya akan segera Launching

References :
  1. Novel Ayat Ayat Cinta
  2. Ayat Ayat Cinta the Movie
  3. Hanung Bramantyo

Read the full story

,

Soe Hok Gie -- Catatan Seorang Demonstran

Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942, adik dari sosiolog Arief Budiman. Catatan harian Gie sejak 4 Maret 1957 sampai dengan 8 Desember 1969 dibukukan tahun 1983 oleh LP3ES ke dalam sebuah buku yang berjudul "Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran" Gunung Semeru sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 — 16 Desember 1969 akibat gas beracun.

Setelah lulus dari SMA Kanisius Gie melanjutkan kuliah ke Universitas Indonesia tahun 1961. Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.

Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.

Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman“Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”. dalam catatan hariannya,

Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.

Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.

24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

Soe Hok Gie dalam kata-katanya sendiri :

"Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran."

"Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah."
"Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau."

"Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati
muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda."

"Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan."

"Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun."

"Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?"

"Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi "manusia-manusia yang biasa". Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia."

"Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi."

"Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis..."

"Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia."

"Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah."
"Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita."


"To be a human is to be destroyed."

"Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin."

"Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan."

"I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist."

"Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata."

"Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan."

"Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya."

"Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapu
n. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik."

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Mandalawangi -- Pangrango

Sendja ini, ketika matahari turun kedalam djurang2mu
Aku datang kembali
Kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu.

Walaupun setiap orang berbitjara tentang manfaat dan guna
Aku bitjara padamu tentang tjinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku.

Aku tjinta padamu, Pangrango jang dingin dan sepi
Sungaimu adalah njanjian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Tjintamu dan tjintaku adalah kebisuan semesta.

Malam itu ketika dingin dan kebisuan menjelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bitjara padaku tentang kehampaan semua.

Hidup adalah soal keberanian, menghadapi jang tanda tanja
Tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah dan hadapilah.

Dan antara ransel2 kosong dan api unggun jang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 djurangmu.
Aku tjinta padamu Pangrango
Karena aku tjinta pada keberanian hidup

Djakarta, 19-7-1966
Soe Hok Gie


References :

  1. Miles Film (A Film by Riri Riza)
  2. Blog (Jay adalah Yulian)
Read the full story